Pendidikan • 3 min read

LPDP Desak Periset Optimalkan Dana Abadi Penelitian Rp13,9 Triliun lewat Program Bestari Saintek

Gudang Tekno

April 29, 2026

LPDP Desak Periset Optimalkan Dana Abadi Penelitian Rp13,9 Triliun lewat Program Bestari Saintek

LPDP Desak Periset Optimalkan Dana Abadi Penelitian Rp13,9 Triliun lewat Program Bestari Saintek

Gudang Tekno – 29 April 2026 | Jakarta, 29 April 2026 – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) meluncurkan seruan besar kepada ribuan peneliti di seluruh Indonesia untuk memanfaatkan dana abadi penelitian senilai Rp13,9 triliun. Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menegaskan bahwa alokasi tahunan yang longgar mencapai Rp900 miliar dapat dijadikan landasan kuat bagi proyek‑proyek inovatif yang menghubungkan kampus dengan industri.

Dana Abadi Penelitian Siap Digerakkan

Dalam acara Kick Off Program Bestari Saintek dan peluncuran Skema Pendanaan APBN 2026, Ayom menguraikan bahwa sejak 2013 LPDP telah mendanai lebih dari 3.300 proyek riset dengan total dana Rp3 triliun, namun hanya sekitar 17.000 periset yang merasakan manfaatnya. “Kami ingin memperluas jangkauan, mempermudah prosedur, dan menambah fleksibilitas tahun anggaran,” ujarnya sambil menekankan pentingnya kepercayaan pada output riset.

Strategi baru mencakup penyederhanaan laporan, penyesuaian standar pendanaan, serta pengawasan bersama antara perguruan tinggi, kementerian, dan mitra industri. Ayom menambahkan bahwa dana abadi penelitian harus menghasilkan nilai guna yang konkret, bukan sekadar publikasi akademik.

Bestari Saintek: 122 Tim Raih Pendanaan

Program Bestari Saintek, inisiatif kolaboratif Kemdiktisaintek dan LPDP, menyalurkan total Rp57 miliar kepada 122 tim riset yang tersebar di 64 perguruan tinggi negeri dan swasta. Setiap tim menerima rata‑rata Rp700 juta untuk mengembangkan prototipe, model bisnis, atau solusi teknologi yang dapat diadopsi oleh pasar.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan pentingnya mengatasi “valley of death”—kesenjangan antara laboratorium dan komersialisasi. Ia mencontohkan skema royalti, di mana 70 persen hak paten dibagi kepada peneliti dan 30 persen kepada institusi, sebagai insentif bagi inovator.

Para peneliti kini didorong untuk berkolaborasi langsung dengan industri, memastikan bahwa hasil riset tidak hanya berhenti pada prototipe, melainkan dapat diproduksi secara massal. “Industri yang mengerti pasar akan membantu menyesuaikan spesifikasi, kualitas, dan harga produk,” ujar Brian.

  • Pangan dan pertanian
  • Kesehatan dan obat
  • Energi baru dan terbarukan
  • Teknologi komunikasi dan informasi
  • Material maju
  • Kebencanaan
  • Sosial‑humaniora
  • Seni budaya

Data seleksi menunjukkan bahwa hanya 4,9 persen dari 8.951 pendaftar berhasil melewati semua tahap, menegaskan tingkat kompetisi yang tinggi. Dirjen Saintek Ahmad Najib Burhani menambahkan bahwa dukungan LPDP berupa dana abadi penelitian menjadi tulang punggung bagi keberlanjutan ekosistem riset.

Para rektor dan dekan menanggapi positif, menyebut program ini sebagai momentum untuk memperkuat Tridharma Perguruan Tinggi. Rektor Universitas Muslim Indonesia, Hambali Talib, menyatakan bahwa integrasi riset dengan industri akan mempercepat transfer teknologi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan fleksibilitas anggaran dan standar pendanaan yang lebih ramah, LPDP berharap dana abadi penelitian dapat terus tumbuh, didorong oleh keberhasilan proyek‑proyek terpilih. Ayom menutup dengan harapan bahwa sinergi antara peneliti, perguruan tinggi, dan mitra industri akan menghasilkan inovasi yang nyata, menggerakkan perekonomian nasional, dan menempatkan Indonesia sebagai pusat riset berdaya saing tinggi di kawasan.

Gudang Tekno

Review by Gudang Tekno

Contributor and technology analyst at Gudang Tekno. Specializing in AI, hardware, and digital transformation.

View Full Bio

Related Analysis

Add to the conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *