Olahraga • 3 min read

Tardelli Kritik Kebijakan Juventus di Era Elkann, Rindu Sentuhan Agnelli

Istifadah Elexes

February 10, 2026

Tardelli Kritik Kebijakan Juventus di Era Elkann, Rindu Sentuhan Agnelli

Tardelli Kritik Kebijakan Juventus di Era Elkann, Rindu Sentuhan Agnelli

Gudang Tekno – 10 Februari 2026 | Marco Tardelli, legenda Juventus yang pernah mengangkat piala Piala Dunia 1982, tampak tak lagi nyaman dengan arah klubnya saat ini. Dalam acara peluncuran docu‑film “Juventus – Primo Amore”, sang pahlawan 71‑tahun itu melontarkan keluhan tentang manajemen yang menurutnya telah menjauhkan identitas sejati Bianconeri.

Menurut Tardelli, kehadiran John Elkann sebagai pemilik mayoritas tidak menjamin keterlibatan langsung dalam urusan lapangan. Elkann, yang memimpin grup Exor, lebih sering terlihat di rapat-rapat korporasi daripada di tribun San Siro, menyerahkan pengelolaan harian kepada presiden klub Gianluca Ferrero dan CEO baru Damien Comolli.

“Saya rasa Juventus kini lebih terasa seperti sebuah perusahaan daripada klub sepak bola,” ujar Tardelli dengan nada serius. “Kita kehilangan sosok yang mencintai klub karena kegembiraannya, bukan semata-mata karena nilai komersialnya.”

Kenangan Andrea Agnelli

Walaupun Tardelli mengakui hubungan pribadinya dengan mantan presiden Andrea Agnelli tidak selalu akrab, ia menegaskan rasa rindunya terhadap sosok yang pernah berada di “tanah lapangan”. “Andrea memang bukan tanpa cela, tapi ia selalu ada di antara para pemain, merasakan denyut jantung klub,” kata Tardelli.

Ia menambah, kehadiran Agnelli memberikan rasa kepercayaan yang kini terasa hilang. “Saat itu, meski ada kesalahan, ia tetap terlihat, berbicara langsung dengan kami, dan itu yang membuat kami merasa didengar.”

Di sisi lain, Tardelli menyoroti dominasi figur‑figur Prancis dalam struktur eksekutif Juventus. Comolli, yang memang berkewarganegaraan Prancis, memegang peran kunci dalam keputusan transfer dan kebijakan jangka panjang. Selain itu, François Modesto, yang menjabat sebagai Direktur Teknis, menambah lapisan “French” dalam jajaran kepemimpinan.

“Mereka memang profesional, namun kehadiran mereka menimbulkan persepsi bahwa klub kini dikelola oleh orang luar yang kurang mengerti kultur Italia,” tambahnya. “Hal ini menambah jarak antara manajemen dan basis pendukung yang sebagian besar berbahasa Italia.”

Tak hanya soal kebangsaan, Tardelli juga mengkritik cara klub menangani urusan keuangan. Ia menilai bahwa keputusan besar kini didorong oleh pertimbangan bisnis, bukan kebutuhan kompetitif di atas lapangan. “Saya melihat penjualan pemain, kontrak sponsor, dan rencana infrastruktur menjadi prioritas utama, sementara visi sportif terkadang tersisihkan,” ungkapnya.

Meski demikian, mantan gelandang itu tidak menutup pintu harapan. Dalam satu wawancara singkat, ia menyatakan harapannya agar Juventus menemukan pemilik baru yang benar‑benar mencintai klub, seperti sosok Gianni Agnelli pada masanya.

“Kami butuh seseorang yang melihat Juventus bukan sekadar aset, melainkan warisan budaya. Jika ada yang bersedia mengembalikan semangat itu, saya siap mendukung,” tuturnya dengan nada optimis.

Suasana di Turin pun tampak berubah. Para suporter yang dulu bersorak riuh saat menyaksikan Tardelli mengangkat trofi kini menatap kebijakan klub dengan skeptis. Diskusi di media sosial beralih dari pujian ke pertanyaan kritis: “Apakah Juventus masih bisa menjadi klub yang kita cintai?”

Sejumlah analis sepak bola menanggapi, mengingat bahwa klub masih berada di puncak klasemen Serie A meski mengalami perubahan struktural. Namun, mereka sepakat bahwa stabilitas jangka panjang bergantung pada keseimbangan antara visi bisnis dan nilai historis.

Dalam konteks ini, pernyataan Tardelli menjadi cermin kegelisahan internal yang sudah lama terpendam. Ia menegaskan kembali pentingnya mengembalikan “prinsip pertama” – kecintaan pada jersey, pemain, dan supporters – yang selama ini menjadi fondasi Juventus sejak era Agnelli.

Istifadah Elexes

Review by Istifadah Elexes

Writer and contributor for Gudang Tekno

View Full Bio

Related Analysis

Add to the conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *