Rupiah Menguat, Cadangan Devisa yang Memadai Jadi Penopang
Gudang Tekno
July 15, 2026
Rupiah Menguat, Cadangan Devisa yang Memadai Jadi Penopang
Gudang Tekno – 15 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada penutupan perdagangan Jumat sore. Rupiah di pasar spot dibuka di level Rp 18.116 per dollar AS atau melemah tipis 0,04 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.109 per dollar AS.
Namun, pelemahan tersebut tidak berlangsung lama. Pada perdagangan sore, rupiah berhasil berbalik menguat sebesar Rp 18 atau 0,10 persen ke level Rp 18.091 per dollar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menguat Rp 32 atau 0,18 persen menjadi Rp 18.099 per dollar AS.
Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kondisi yang bersifat artifisial karena lebih banyak ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia (BI), bukan oleh penguatan fundamental ekonomi. "Nilai rupiah saat ini artifisial. Penguatannya lebih banyak didukung oleh BI Rate yang tinggi, intervensi Bank Indonesia, serta penjualan fasilitas swap USD/IDR oleh BI dengan diskon biaya (fee discount)," ujarnya.
Menurut Wijayanto, di saat yang sama perbaikan kebijakan fiskal maupun sektoral belum berjalan optimal sehingga belum mampu memperkuat sentimen positif terhadap rupiah. Sementara itu, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan penguatan rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa (cadev) yang memadai.
"Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat," kata Amru. Tercatat, posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi USD 145,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik dari USD 144,9 miliar pada bulan sebelumnya.
Menurut Amru, rupiah masih berpeluang menguat pada pekan depan jika tekanan terhadap dolar AS berlanjut. Namun, penguatan rupiah diperkirakan takkan terlalu besar karena investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama inflasi inti (Core CPI), yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah pekan depan adalah rilis data Core CPI Amerika Serikat. "Jika inflasi inti lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah," ungkap Amru.
Review by Gudang Tekno
Contributor and technology analyst at Gudang Tekno. Specializing in AI, hardware, and digital transformation.
View Full Bio