Gudang Tekno – 19 Juni 2026 | Perlintasan sebidang masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, karena jumlahnya cukup banyak dan masih berpotensi menimbulkan kecelakaan. Anggota Komisi V DPR RI Hamka B Kady menyebut perlintasan sebidang, termasuk di Kota Cirebon, Jawa Barat, perlu dilengkapi palang pintu otomatis sebagai upaya meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan.
Menurut Hamka, sejumlah kecelakaan yang terjadi selama ini banyak disebabkan oleh perlintasan sebidang yang tidak dijaga atau belum memenuhi persyaratan pengamanan. Ia memastikan pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) serta kementerian terkait telah menyiapkan langkah penanganan, untuk meningkatkan keamanan di perlintasan sebidang.
KAI juga mencatat jumlah korban kecelakaan perlintasan pada 2026 turun dibandingkan periode sebelumnya. Pada 2025, terdapat 140 korban, terdiri dari 57 meninggal dunia, 23 luka berat, dan 60 luka ringan. Pada 2026, jumlah korban menjadi 105 orang, atau turun sekitar 25%.
Penyebab Kecelakaan
Berdasarkan data KAI hingga 14 Juni 2026, tercatat 128 kejadian kecelakaan di perlintasan sebidang dengan 105 korban, terdiri dari 44 meninggal dunia, 27 luka berat, dan 34 luka ringan. Dari sisi penyebab, 113 kejadian atau 88% dipicu kendaraan menerobos, kemudian 9 kejadian atau 7% karena kendaraan mogok, serta 6 kejadian atau 5% akibat palang pintu terlambat atau belum tertutup.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mempercepat penataan perlintasan sebidang melalui penutupan titik rawan, penguatan pengamanan, edukasi kepada masyarakat, serta koordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, perangkat kewilayahan, dan warga sekitar jalur.
Tanggung Jawab Bersama
Keselamatan di perlintasan sebidang merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah menata akses jalan, aparat membantu penertiban, KAI menjaga keselamatan perjalanan kereta api, dan masyarakat berperan melalui kepatuhan saat melintas. Ketika setiap pihak menjalankan perannya, risiko kecelakaan dapat ditekan dan ruang selamat bagi publik semakin kuat.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penanganan perlintasan sebidang perlu dilihat dengan logika risiko. Satu akses rawan yang dibiarkan terbuka dapat membentuk kebiasaan melintas. Ketika kebiasaan itu terus terjadi, potensi kecelakaan akan berulang.

Leave a Reply