CNG Jadi Pilihan Strategis Pemerintah untuk Kurangi Ketergantungan LPG Impor
Gudang Tekno
April 30, 2026
CNG Jadi Pilihan Strategis Pemerintah untuk Kurangi Ketergantungan LPG Impor
Gudang Tekno – 30 April 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Pemerintah terus menelusuri langkah-langkah baru demi kemandirian energi nasional. Salah satu opsi yang kini menjadi sorotan adalah pemanfaatan Compressed Natural Gas atau CNG sebagai pengganti LPG yang mayoritas masih diimpor.
Rencana Pemerintah Kaji CNG
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa kajian CNG masih berada pada tahap finalisasi. Menurutnya, CNG dapat diproduksi dari gas cair C1‑C2 yang sudah tersedia di dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan luar.
Data Kementerian ESDM mencatat konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, dengan produksi domestik hanya sekitar 1,6‑1,7 juta ton. Sisanya harus diimpor, menambah beban devisa negara.
Proses kompresi CNG melibatkan penekanan gas cair hingga 250‑400 bar, menghasilkan bahan bakar yang stabil untuk industri, transportasi, dan rumah tangga. Selama ini, 57 badan usaha telah terdaftar sebagai pelaku usaha di sektor CNG.
Peran PGN Gagas dalam Implementasi CNG
PGN Gagas, anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara, menegaskan kesiapan infrastrukturnya untuk mendukung kebijakan pemerintah. Saat ini perusahaan mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di tujuh provinsi, melayani rata‑rata 2.200 kendaraan per hari melalui layanan bermerk ‘Gasku’.
Layanan Gaslink yang menyasar industri, komersial, dan UMKM telah menyalurkan lebih dari 4 juta MMBTU gas bumi pada tahun 2025. Integrasi jaringan gas bumi PGN memastikan pasokan CNG tetap stabil tanpa harus bergantung pada fluktuasi harga energi global.
Manfaat CNG dipandang meliputi:
- Pengurangan impor LPG dan penurunan beban neraca perdagangan.
- Peningkatan penggunaan sumber daya energi domestik.
- Emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, pemerintah menekankan pentingnya diversifikasi bauran energi. CNG diposisikan sebagai senjata strategis bersama B50, DME, dan optimalisasi lifting migas untuk menanggulangi krisis energi global.
Langkah selanjutnya mencakup peninjauan aspek keekonomian, persiapan infrastruktur tambahan, serta edukasi publik tentang keamanan dan keandalan CNG. Kolaborasi antara Kementerian ESDM, PGN Gagas, dan pelaku industri diharapkan mempercepat transisi energi yang berkelanjutan.
Review by Gudang Tekno
Contributor and technology analyst at Gudang Tekno. Specializing in AI, hardware, and digital transformation.
View Full Bio